Maria dan Gereja

“Bila kita membaca bahwa sang utusan menyapa Maria sebagai `yang penuh rahmat’, konteks Injil, yang memadukan wahyu dan janji-janji masa lalu, memungkinkan kita memahami bahwa di antara semua `berkat rohaniah dalam Kristus’, berkat ini merupakan `berkat’ khusus. Dalam misteri Kristus, Maria `hadir’ malahan `sebelum penciptaan dunia’, sebagai seseorang yang `dipilih’ Bapa sebagai `Bunda PuteraNya’ dalam Penjelmaan. Dan, lebih lagi, bersama dengan Bapa, sang Putera telah memilih Maria, dengan mempercayakannya dari kekal kepada Roh kekudusan. Dalam cara yang khusus dan istimewa itu Maria dipersatukan dengan Kristus, dan dengan itu `dikasihi dalam Puteranya yang terkasih’, Puteranya yang satu hakikat dengan Bapa, yang menjadi pusat semua `kemuliaan rahmat’. Bersaman dengan itu dia tetap terbuka sempurna terhadap `kurnia dari atas’ (bdk Yak 1:17). Seperti diajarkan Konsili, Maria `berada di antara yang miskin dan rendah hati di hadapan Tuhan, yang dengan percaya menunggu dan menerima penyelamatan dari padaNya.”

(Santo Yohanes Paulus II: Ensiklik `REDEMPTORIS MATER’ , 25 Maret 1987, no 8)

“Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28).

Apa yang dituliskan oleh Santo Yohanes Paulus II diatas pastinya sudah sangat menjelaskan mengenai pandangan dan arah devosi kita, Gereja, terhadap Maria. Dan yang akan saya tuliskan dibawah bukanlah suatu ulasan apalagi untuk menambahi/mengurangi atau bermaksud mengajari. Tidak satu iota pun. Karena saya pun tidak lebih suci daripada para Farisi. Ini hanyalah sebuah refleksi pribadi saya mengenai Maria, dan semoga refleksi ini semakin membawa saya dan teman-teman untuk lebih mengimani Allah, dan mencintai Maria.

Sebagai Katolik, sedari kecil saya begitu akrab dengan sosok Maria. Minimal kehadirannya saya rasakan setahun dua kali, di bulan Mei dan Oktober; Bulan Maria; Bulan Rosario. Dapat dikatakan, orang Katolik lebih banyak berdoa Rosario dibanding membaca Kitab Suci. Kebanyakan mungkin lebih mengenal (dekat) Maria dibanding Yesus.

Seiring bertambahnya umur, saya pun semakin menyadari misteri Maria di dalam katolisitas. Maria sebagai manusia; Bunda Yesus; dan Bunda Gereja. Tiga prespektif ini yang tertanam di dalam pribadi saya sampai saat ini. Tiga prepektif ini yang akan saya bagikan kepada teman-teman.

MARIA SEBAGAI MANUSIA PILIHAN

Saya mengimani betul bahwa Maria menerima `berkat khusus’, sebagai yang `terpilih’ dan sudah hadir `sebelum penciptaan dunia’. Maria suci, tak bercela, dari semula. Namun saya juga tertarik mengenai sisi ‘kemanusiaan’ Maria; sebagai remaja putri; sebagai seorang istri dan seorang ibu tentunya. Tidak banyak memang kisah Maria yang dapat dibaca di Injil. Tapi saya mendapat begitu banyak pencerahan dan inspirasi dari kisah sederhana seorang Maria.

Sudah sejak lama saya pribadi menyakini betul bahwa tokoh utama dalam kisah Kelahiran Bayi Yesus (Natal) adalah Maria. Sang Bayi memang (calon) Penyelamat Dunia. Tapi saat itu bukanlah saat-Nya. Iman Maria yang memurahkan hati Allah agar Putra-Nya yang Tunggal lahir ke dunia. Bisa dibayangkan apabila Maria menolak Kabar Gembira dari Gabriel. Walaupun saya percaya itu takkan terjadi karena kepenuhan dari rencana Allah.

Saya yakin bahwa Maria juga mempunyai sejuta impian dan hasrat sebagaimana lazimnya seorang remaja putri. Memiliki pasangan, menikah, membangun keluarga dan hidup bahagia. Namun pada kenyataannya (kebahagiaan duniawi) itu tidak terjadi. Dengan penuh iman dan kesadaran, Maria menerima Kabar Gembira dari Gabriel, berikut segala resiko dan konsekuensinya. Saat itu Maria belum menikah dan bisa dibayangkan bagaimana rasanya mengandung di luar nikah. Aib dan hukuman rajam menanti di depan mata. Pasti Maria juga merasakan keraguannya terhadap Yusuf, yang belum tentu akan menerimanya. Ditambah lagi ancaman Herodes untuk menyingkirkan setiap bayi laki-laki. Maria yang sedang hamil, harus naik keledai bersama Yusuf menuju Mesir melalui perjalanan yang pastinya tidak mudah. Belum cukup sampai saat situ, Maria pun harus melahirkan di sebuah kandang hewan. Jangan bayangkan dekorasi kandang Natal di paroki. Mungkin yang perempuan lebih mengerti bagaimana rasanya berada di posisi ini. Saya yakin belum tentu ada perempuan jaman sekarang yang mau momen pernikahan dan melahirkan anak pertamanya seperti yang dialami Maria. Maka, terpujilah engkau diantara wanita, ya Maria. Dan biar seimbang, saya yakin juga belum tentu ada laki-laki jaman sekarang mau melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Yusuf.

Dari prespektif ini saya belajar dari Maria mengenai 3 siklus kehidupan orang beriman: Menerima Kabar Gembira; Mengandung; dan Melahirkan. ‘Menerima Kabar Gembira’ disini saya artikan faktual adalah ketika saya membaca Kitab Suci, mendengar Homili dan/atau nasihat-nasihat baik dari orang lain. Kemudian mau kah saya menerimanya/’mengandung’? Saat inilah proses refleksi dan penggalian nilai-nilai kebenaran ilahi terjadi -proses ini tidak menyenangkan- (Bagaimana caranya memadamkan dendam? Haruskah saya memaafkan dan mendoakan orang-orang yang bersalah kepada saya? Apa gunanya pantang dan puasa? Dsb-dsb.) Dalam proses ini saya akan banyak menyangkal dan mencari pembenaran. Mengikuti Yesus atau Dunia? Setelah itu pertanyaannya adalah: Apa yang kemudian saya ‘lahirkan’? Apakah tingkah laku dan tindakan saya adalah Yesus (kasih)? Apakah saya ‘mendagingkan’ Firman (ayat-ayat Kitab Suci, Homili) dan ‘melahirkan’ habitus/daging/tingkah laku nyata?

MARIA SEBAGAI BUNDA YESUS

Apa konsekuensi menjadi ibu dari seorang Penyelamat Dunia? Saya memperkirakan bahwa Maria dengan naluri seorang ibu menginginkan yang terbaik bagi Putra-nya. (Mungkin saja) Maria (sebagai seorang Yahudi kebanyakan) sempat mengharapkan Yesus adalah Mesias seperti Daud yang akan melepaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi dengan jalan pedang dan kemegahan. Dan selama pengasuhannya, Maria secara bertahap menyadari bahwa ternyata Yesus malahan harus berkorban wafat di kayu salib untuk menyelamatkan dunia. Dan sepanjang proses menyadari itu, Maria secara manusiawi berharap itu tidak terjadi atau menyangkalnya agar kejadiannya sesuai dengan keinginanannya. Sebagai seorang yang mengetahui dan menjadi bagian dari Karya Penyelamatan, pergulatan seperti ini meremukkan hatinya. Diantara harapan kasih seorang ibu kepada Putranya dan kesadaran penerimaan terhadap Karya Penyelamatan sesuai rencana Allah.

Dari kisah Perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11), terlihat jelas bahwa Maria berharap Yesus menjadi Mesias sesuai dengan keinginannya. Dalam hati kecilnya, Maria berharap bahwa Yesus hanya perlu bersabda saja untuk sekedar menyelamatkan. Tapi Yesus menjawab (menurut saya) dengan ketus, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Walaupun akhirnya Yesus tetap melakukan mujizat pertama-Nya tersebut. Dalam Injil pernah juga Yesus ‘menolak secara halus’ ketika Maria dan sanak saudara –Nya datang berkunjung (Mat 12:46-50).

(Perkawinan Kana = Hubungan Allah dengan Manusia; → Anggur = Ilahi; Air = Manusia → Konsekrasi: Anggur di campur air → “Mereka kehabisan Anggur” = keadaan dosa, ketidak-adaan Allah → Penyelamatan = Memperbaiki hubungan Allah dengan Manusia → Yesus di Salib mengalirkan darah [Anggur] dan air dari lambung-Nya)

 (Yesus dan sanak saudara-Nya = Yesus dan perbuatan kasih-Nya → Ibu dan sanak saudara = lambang bakti dan perbuatan/tingkah laku → yang melakukan kehendak Bapa di surga)

Saat-saat Yesus menjalani Karya Penyelamatan-Nya, saat-saat itu juga Maria harus melepaskan Yesus. Seperti orang tua kebanyakan yang melepas anaknya untuk kuliah/bekerja/menikah. Tapi toh Kasih Ibu Sepanjang Masa, sampai akhirnya Yesus wafat di Kayu Salib pun Maria tetap mendampingi. Saya tidak tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang harus melihat dengan mata-kepala-nya sendiri, Anak laki-laki semata wayang yang dikasihinya harus wafat dihukum salib, dibunuh dan disiksa secara keji.

Dari prespektif ini saya belajar dari Maria mengenai pengabdian, keteguhan dan kesetiaan. Teguh dan setia terhadap rencana yang telah dipersiapkan Allah. Terus mengabdi kepada Allah apapun yang terjadi. Walaupun sering juga saya berpikir bagaimana baiknya menurut saya saja. Berharap Yesus merubah masalah-masalah hidup saya semudah Yesus merubah air menjadi anggur. Saya menolak dan menyangkal apabila yang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan keinginan saya. Saya tidak mau ‘mematikan’ ego dan raga saya untuk menjadi bagian kecil dari Karya Penyelamatan. Saya tidak mau melakukan ‘hukum alam’ (pengorbanan) yang seperti Maria dan Yesus lakukan karena ketakutan saya (dan setiap manusia) terhadap penderitaan dan merasa bahwa pengorbanan yang saya lakukan mungkin akan sia-sia.

(hukum alam = pengorbanan → benih harus masuk ke dalam tanah kemudian musnah dan menjadi pohon untuk banyak kehidupan; bensin harus habis terbakar agar mesin bekerja)

MARIA SEBAGAI BUNDA GEREJA

“Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:26-27)

Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. (Why 12:1)

Selain banyak Ensiklik dan dokumen-dokumen resmi Gereja serta tulisan para orang kudus mengenai Maria, kedua ayat tersebut diatas juga menegaskan bahwa Maria adalah Bunda Gereja. Bunda bagi Para Rasul (12 Bintang), Orang-orang Kudus dan setiap orang beriman. Bunda Maria menjadi teladan yang patut dicontoh bagi Gereja yang sedang berziarah di dunia.

Saya pernah bertanya kepada pastor pembimbing saya, Pastor Sandro Peccati, SX, apakah murid yang dikasihi Yesus (Yohanes) itu tidak akan mati sampai Yesus datang untuk kedua kalinya? (Yoh 21:20-22). Jawabannya adalah bukan tafsir secara harafiah bahwa Yohanes tidak akan mati. Tapi Yohanes merujuk kepada orang-orang beriman (yang melakukan kehendak Bapa) -yang dikasihi Yesus- akan terus ada/hidup sampai Yesus kembali. Anggota-anggota Gereja yaitu orang beriman, secara pribadi, adalah yohanes-yohanes yang akan terus hidup sampai Akhir Jaman.

Dari jawaban tersebut, saya pun menyadari bahwa kata-kata Yesus kepada Maria dan Yohanes saat di Golgota adalah pesan yang jelas dari Yesus, bahwa (teladan) Maria adalah (teladan) ibu bagi Yohanes (orang beriman). Bahwa Maria adalah manusia pertama yang meneladani Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Maria memberikan hidupnya sebagai ibu bagi Yesus, seluruh hidupnya bukan lagi miliknya melainkan Bapa. Seperti Yesus yang setia terhadap misi dan panggilanNya, Maria pun dengan setia menjalani perannya sesuai kehendak Bapa.

Maria menjadi teladan sempurna untuk saya mengenai bagaimana seharusnya mempunyai Iman, Harapan dan Kasih.

Teladannya sudah ada. Sekarang pertanyaannya: apakah saya mau meneladaninya?

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

(Lukas 1:38)

JY – OMK Paroki Toasebio

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *