Yang Dianggap Paling Lemah Yang Dibutuhkan

What is more, it is precisely the parts of the body that seem to be the weakest which are the indispensable ones.

Untitled

Pagi ini seperti biasa aku bangun lebih awal di saat orang lain masih terlelap dalam mimpi. Dan seperti biasa pula aku memulai hariku dengan berbincang dengan Tuhan Yesus yang manis dan membuka Alkitab yang berisi surat cinta dariNya.

Entah kenapa pagi ini aku tidak ingin membaca bacaan yang aku lakukan hari-hari sebelumnya Kitab Imamat. Aku pun lalu membolak-balik Alkitabku. Hingga akhirnya aku pun berhenti membukanya dan memutuskan untuk membaca Kitab 1 Korintus 12.

 

Aku pun mulai membaca kitab itu. Kalimat per kalimat, ayat per ayat pada kitab itu kubaca dan renungkan. Hingga akhirnya aku pun berhenti di satu ayat beberapa ayat yang membuatku jadi merenung hingga berkali-kali

1 Korintus 12:22-24

12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. 12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.

Aku sendiri teringat dengan pengalamanku beberapa waktu lalu. Dimana aku diberikan kesempatan pada Tuhan untuk bisa untuk berpartisipasi menjadi volunteer dalam acara Orang Muda Katolik seAsia yang berlangsung tiap 3-4 tahun sekali. Pada saat itu aku pun masuk dalam divisi publikasi. Di sana aku diberikan tugas oleh pembimbing untuk menjadi media monitor dan admin social media. Walaupun terkadang banyak orang berpikir kalau tugas itu sederhana tapi di sana aku belajar untuk setia dan taat pada tugas itu.

Untitled.png2Suatu ketika ada orang yang bertanya padaku, ” Mbak, selama di AYD tugas jadi apa?” aku pun hanya menjawab, ” Di sana saya hanya menjadi media monitor dan admin sosmed. Orang itu menjawab lagi, ” Wah hebat dong bisa jadi seperti itu di acara sebesar AYD.” Aku pun membalasnya lagi “ah say mah Cuma apa bu. saya bisanya bantu gitu aja bu buat AYD.” Kataku merendah lagi. “Ah nggak usah merendah lagi. Lagian kalau misal nggak ada admin sosmed. Mana mungkin orang tahu apa itu AYD. Apalagi saya yang uda ibu-ibu gini, mana mungkin paham apa sih AYD itu! hehe. Semangat ya. Jangan suka merendah terus. Dosa lho kalau kamu merendah terus. Semangat ya sayang!” kata ibu itu.

Dan satu lagi pengalaman yang nggak akan pernah aku lupakan. Ketika di acara AYD, setiap hari kami selalu mengikuti misa. Di sela-sela kesibukanku sebagai admin sosmed dan media monitor. Aku selalu berusaha untuk bisa mengikuti misa, walaupun hanya bisa duduk di barisan belakang. Entah aku sadari atau tidak. Setiap kali selesai misa, pasti ada uskup atau cardinal yang berhenti, memberkati dan memelukku. Bahkan ada seorang cardinal yang ketika mellihatku. Beliau memanggil dan mengajakku berkenalan. Bahkan beliau menawarkan diri padaku untuk berfoto bersama. Jujur saja, ketika itu hatiku rasanya ingin menangis, ” Ah Tuhanku,siapakah aku ini hingga orang sehebat Cardinal Rozario, dan Bishop Sim mengajakku untuk berfoto bersama? Tuhan, aku kan hanya anakMu yang kecil dan lemah.” Kataku dalam hati waktu itu. Bahkan hingga kini ketka aku melihat foto itu. Aku pun masih tidak menyangka bisa berfoto dengan orang sehebat bishop dan cardinal.

Ya, yang aku tahu semua itu terjadi bukan karena kelebihan ataupun kehebatanku. Tapi, semua itu terjadi karena kemurahan dan kebaikanMu untukku, Tuhan. Terima kasih Tuhan. Amin

 

Semarang, 27 Agustus 2017

Maria F. Kristina

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *