Tentang Pengampunan

 

Aksi penyerangan di Gereja Lidwina, Yogyakarta, beberapa hari lalu, masih membekaskan luka. Keterkejutan, kerusakan, bahkan orang-orang yang menjadi korban rasanya tak juga cukup disandingkan dengan kenyataan bahwa pelaku kekerasan sudah dilumpuhkan. Banyak pihak mengupayakan agar luka itu dapat disembuhkan. Saudara-saudara Muslim membantu membersihkan gereja, memanjatkan doa bersama, dan menyerukan perdamaian.

 

pengampunan2Kendati hal-hal baik telah dilakukan, apakah menjadi mudah bagi mereka yang terluka untuk kembali berjalan? Luka memang harus disembuhkan. Khusus dalam memasuki masa Prapaskah ini, kita diajak untuk menghidupkan kembali kenangan akan jalan salib Tuhan. Betapa banyak luka di sana, namun Tuhan berjalan terus, melampaui maut, mencapai kemuliaan. Panggilan yang sama ditujukan kepada kita. Jalan salib Tuhan adalah jalan kasih dan pengampunan.

 

Sebagai orang Katolik, kita selalu didorong untuk mengampuni. Banyak pengalaman membuktikan bahwa hal itu tak mudah dilakukan. Menarik ungkapan Rm. Ignasius Budiono O.Carm, Provinsial Ordo Karmel Indonesia, dalam suatu sesi pengajaran iman, bahwa orang tak boleh terlalu mudah mengampuni. “Pengampunan itu bukan di awal, melainkan di akhir setelah orang mengalami pergulatan untuk mengampuni. Jika orang terlalu mudah mengampuni, ia tak akan dapat menghargai luka-lukanya sendiri.”

 

Rm. Budi mendorong agar apapun persoalan diselesaikan. “Masalah itu harus diselesaikan, bukan dibiarkan atau dilupakan begitu saja,” tegasnya. Dengan cara itulah, jalan pengampunan diterakan.

 

Secara umum, dalam pandangan para animator keadilan & perdamaian, rekonsiliasi ditempuh melalui cara ini: pengakuan, penerimaan dan pemaafan. Pengampunan diberikan setelah pelaku kejahatan mengakui tindakannya dan semua pihak dapat menerima pengakuan itu.

 

Saat Afrika Selatan mulai merintis jalan rekonsiliasi atas praktik apartheid, kedua pihak yang berlawanan dipertemukan. Bukan untuk saling menyerang, namun untuk mensharingkan luka-luka akibat kekerasan. Semakn banyak cerita dikisahkan, semakin terasa bahwa mereka adalah saudara satu-sama lain.

 

pengampunanTentu saja selalu ada kemungkinan, jalan-jalan rekonsiliasi tak mudah ditempuh. Misalnya, pelaku tak mau mengakui kekejamannya. Ini adalah hambatan besar dalam proses perdamaian. Tanpa pengakuan, pengampunan sulit untuk diberikan.

 

Di titik inilah rahmat Allah perlu diminta. Kerendahan hati dituntut bukan hanya dari si pelaku, namun juga korban. Kerendahan hati untuk menerima semua yang telah dialami, betapapun pahitnya. Kerendahan hati untuk rela dibentuk menjadi baik oleh berbagai peristiwa, betapapun sakitnya. Pengampunan dan rekonsiliasi bukan hanya sekadar prosedur dan kemampuan manusiawi, melainkan rahmat Allah sendiri.

 

Dalam Injil, seorang kusta berkata kepada Yesus, “Tuan, jikalau Engkau mau, Tuan dapat menyembuhkan aku.” Kita dapat pula mengatakan hal yang sama, dan kita pun sembuh.

Helen

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *