Paus Menjawab Pertanyaan Orang Muda: Tatoo, Human Traffiking, Panggilan dan lain-lain

Pope Francis poses for a photo at a pre-synod gathering of youth delegates at the Pontifical International Maria Mater Ecclesiae College in Rome March 19. Seated next to the pope are Cardinal Lorenzo Baldisseri, secretary-general of the Synod of Bishops, and U.S. Cardinal Kevin J. Farrell, prefect of the Vatican's Dicastery for Laity, Family and Life.(CNS photo/Paul Haring)

Paus Fransiskus menanggapi pertanyaan – pertanyaan orang muda di pertemuan Pra-Sinode

5 pertanyaan dari orang muda dengan beragam pengalaman dan dari berbagai bagian dunia. Dan 5 jawaban dari Paus Fransiskus dari martabat wanita sampai pembentukan rohani.

Pada sebuah pertemuan Pra-Sinode di hari Senin (19/03), Paus Fransiskus menanggapi 5 pertanyaan mengenai permasalahan yang dihadapi orang muda dari seluruh dunia.

 

Bagaimana orang muda bisa membantu korban dari human trafficking / perdagangan manusia?
Terlihat jelas bahwa Paus Fransiskus tergerak oleh pertanyaan pertama ini yang mengarah pada kenyataan tentang perdagangan seks. Paus mengacu pada cerita yang didengarnya dari seorang wanita yang menjadi korban perdagangan manusia tentang bahaya yang harus diadapinya ketika mencoba lari dari penculiknya. Paus menggambarkan penganiayaan ini, atau bahkan penyiksaaan ini, sebagai bentuk ‘perbudakan zaman sekarang’. Paus melanjutkan dengan mengecam kejahatan dalam mengeksploitasi perempuan. Dia juga berkata cukup keras kepada orang – orang yang dibaptis secara Katolik yang membayar untuk prostitusi. Paus Fransiskus memanggil orang muda untuk berjuang bagi martabat wanita dan mengakhiri jawaban dengan memohon pengampunan bagi semua umat Katolik yang mengambil bagian dalam ‘tindakan kriminal’ ini.

 

pra sinode1Kemanakah orang muda dapat mencari pendampingan dalam membuat keputusan dalam hidup?
Paus Fransiskus menjawab kepada seorang murid muda dari Perancis yang sedang mencari tujuan dalam hidupnya dengan menyarankan agar kita mengungkapkan isi hati kita kepada mereka yang mempunyai kebijaksanaan, yang masih muda atau sudah tua. “Orang yang bijak”, katanya, “adalah seseorang yang tidak takut akan apapun, tetapi juga seseorang yang tahu bagaimana untuk mendengarkan dan mempunyai karunia dari Tuhan untuk mengatakan hal yang tepat di waktu yang tepat.” Paus memperingatkan bahwa ketika orang muda gagal dalam mencari “jalan diskresi” mereka, mereka dapat menutup diri. Ini dapat menjadi seperti membawa sebuah “kanker” di dalam diri, katanya. Dan hal ini mempunyai bahaya menjadi beban berat bagi mereka dan mengambil kebebasan mereka.

 

Bagaimana kita mengajar orang muda untuk terbuka kepada sesama dan kepada Tuhan?
Paus Fransiskus menjawab bahwa edukasi harus mengajarkan tiga bahasa dasar: yang ada di kepala, di hati dan di tangan. Bahasa dari kepala, katanya, berarti berpikir dengan baik dan mempelajari hal – hal konkret. Bahasa hati adalah memahami perasaan dan sentimen emosi. Bahasa dari tangan adalah mempergunakan karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita untuk membuat hal – hal baru. Kuncinya, katanya, adalah untuk menggunakan ketiganya bersamaan. Paus Fransiskus melanjutkan dengan mengkritik apa yang disebutnya sebagai “sifat terisolasi” dari dunia digital zaman sekarang, dunia virtual. Daripada mengecam teknologi, Paus menyebutnya sebagai kekayaan yang harus digunakan dengan baik dengan sebuah “kepastian yang membawa kebebasan”.

 

Bagaimana seorang muda yang dalam persiapan menjadi pastur dapat menanggapi kompleksitas dari kebudayaan masa kini seperti contohnya, tato?
Paus Fransiskus mengambil pertanyaan dari seorang seminarian muda dari Ukraina untuk menggambarkan seorang imam sebagai seorang “saksi bagi Kristus”. Klerikalisme, sebaliknya, kata Paus, adalah “salah satu penyakit terburuk dari Gereja”, karena hal ini membingungkan antara “peran paternal dari seorang imam” dengan “peran manajerial dari seorang atasan”. Dia juga mengatakan tentang hubungan antara imam dengan komunitas dan bagaimana hubungan ini menjadi terganggu dan dapat dihancurkan oleh “gosip”. Menanggapi secara khusus kepada pertanyaan mengenai tato, Paus Fransiskus mengingatkan kembali tentang bagaimana kebudayaan yang berbeda – beda menggunakan tato untuk membedakan dan menandai diri mereka, jadi “jangan takut kepada tato”, katanya – tapi juga jangan berlebihan. Jika perlu, pakailah tato sebagai sebuah pembuka pembicaraan dengan bertanya apa makna dari tato itu.

 

Bagaimana wanita muda religius menyeimbangkan antara budaya dominan dalam masyarakat dengan kehidupan rohani dalam menyelesaikan misi mereka?
Paus menanggapi pertanyaan terakhir ini dengan berkata bahwa pembentukan yang cukup sepanjang kehidupan beragama perlu dibangun di atas empat pilar: pembentukan kehidupan intelektual, komunitarian, apostolik dan spiritual. Hanya memiliki pembentukan spiritual akan mengarah kepada ketidakdewasaan psikologis, katanya. Walaupun hal ini sering terjadi untuk melindungi orang muda religius dari dunia, Paus Fransiskus mengatakan bahwa ini bukanlah perlindungan, melainkan “deformasi”. Mereka yang tidak pernah menerima pembentukan afektif adalah mereka yang akhirnya melakukan kejahatan. Membiarkan seseorang untuk menjadi dewasa secara afektif adalah satu – satunya cara untuk melindungi mereka.

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *