SAHABAT SEPEZIARAHAN GENERASI MILLENIAL

Oleh: N. Tri Suswanto Saptadi (Pendamping Komisi Kepemudaan KAMS)

 

Allah berkehendak menguduskan dan menyelamatkan orang-orang beriman sebagai satu komunitas Umat Allah. Bukan masing-masing secara terpisah-pisah melainkan dalam hubungan satu sama lain sebagai umat-Nya (LG. 2). Umat yang penuh kepercayaan mengarahkan pandangannya kepada Yesus sebagai pencipta keselamatan dan dasar persatuan dan perdamaian, dikumpulkan dan dijadikan Gereja sebagai sakramen keselamatan yang tampak (LG. 9. KHK Kan. 204).

 

Tahun 2018 merupakan tahun istimewa di mana pada bulan Oktober nanti akan digelar Sinode Para Uskup di Roma yang bertema “Imam, Kaum Muda dan Penegasan Panggilan.”Sinode tersebut menjadi kesempatan untuk merenungkan panggilan secara lebih mendalam khususnya Orang Muda yang merupakan harapan masa sekarang dan masa depan Gereja serta masyarakat. Orang muda harus mulai berperan aktif dan efektif dalam kehidupan pastoral. Di Era Disrupsidan menyikapi pola kehidupan Generasi Millenialseperti saat ini, pengaruh orang muda terhadap perkembangan kehidupan gereja dan masyarakat dengan segala potensi dan kemampuan yang ada, dapat menentukan kehidupan pastoral di suatu paroki. Orang muda perlu mendapatkan perhatian dan pendampingan dalam pendidikan moral, rasa, semangat iman, kegiatan kerasulan, pengembangan intelektual, kepribadian yang kuat, persiapan hidup keluarga, dan perkawinan atau penghayatan akan panggilan khusus seperti imam, biarawan, biarawati, serta pendidikan kemasyarakatan.

 

Seperti tertulis dalam kitab suci, yaitu:“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah kudengar dari bapa-Ku”(Yoh 15:15), maka semakin jelas bahwa orang muda sejatinya adalah sahabat seperziarahan.

 

Foto: TFT bagi Para SKP dan Pendamping OMK di ParokiUntuk dapat mengerti, memahami, menghayati dan melaksanakan akan panggilan dalam pembinaan dan pendampingan bagi kehidupan pastoral orang muda di paroki, maka Komisi Kepemudaan KAMS mengadakan kegiatan “Training For Trainers”(TFT) yang dipandu oleh RD. Antonius Haryanto selaku Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komkep KWI) bersama tim kerja, yaitu: Stefanus Rizal Rejadi, Helena Dewi Justicia, dan Lisa Esti Puji Hartanti. Secara khusus tema kegiatan adalah “Sahabat Sepeziarahan”, yang bertujuan untuk (1) Mendampingi dan membina kaum muda Katolik secara tepat dan benar, (2) Melibatkan kaum muda dalam menunaikan dan mempertanggung-jawabkan masalah-masalah kehidupan, sehingga dapat berkembang menjadi orang-orang dewasa yang mampu mengambil bagian dalam pengabdian kepada Gereja dan masyarakat, (3) Membekali para pendamping kaum muda di tingkat Paroki, (4) Mengembangkan pendampingan yang berfokus pada kepribadian, katolisitas, kemanusiaan dan kemasyarakatan, kepemimpinan dan keorganisasian, intelektual dan profesionalitas. Peserta kegiatan TFT adalah Seksi Kepemudaan Paroki (SKP) yang merupakan aktivis dan pendamping kaum muda yang berjumlah 2 orang untuk setiap paroki di wilayah Kevikepan Makassar yang berasal dari Paroki, yaitu: 1) Hati Yesus Yang Maha Kudus Katedral, 2) Kristus Raja Andalas, 3) Santo Yoseph Pekerja Gotong-gotong, 4) Maria Ratu Rosari Kare, 5) Santo Yakobus Mariso, 6) Santo Fransiskus Assisi Panakukang, 7) Santa Maria Rosa Mystica Sudiang, 8) Santo Albertus Agung Tanjung Bunga, 9) Santo Simon Petrus Gembala Baik Sungguminasa, dan 10) Santo Petrus Rasul Parepare.

 

Kegiatan TFT dilaksanakan pada Jumat-Minggu, 6-8 April 2018 bertempat di “Sentrum Pastoran Serui” Jalan Serui No. 18 Makassar. Pembukaan di mulai dengan doa dan sambutan dari P. Alex Lethe selaku Vikep Makassar. Materi meliputi: (1)Realitas Orang Muda Katolik, (2) Visi misi karya pastoral OMK, (3) Pastoral OMK dalam aksi, (4) Sharing Pendampingan OMK Paroki, (5) Mendesain program kerja SKP sesuai pola Sahabat Sepeziarahan, (6) Presentasi hasil desain program kerja, (7) Mendesain modul dari salah satu program kerja yang dipilih, (8) Presentasi hasil mendesain modul, (9) Keterampilan pendampingan (Coaching skill-mendengarkan aktif), (10) Warnasari dari Komkep KWI.

 

Peserta TFT yang terbagi menjadi 6 kelompok, diajak untuk dapat membuat desain yang terdiri dari (1) Menabur Benih, yaitu: Perkenalan: apa itu OMK, apa itu kategorial;  Katekese dengan ekaristi kaum muda; Mari baca alkitab; pendalaman; dan sharing; Rekoleksi; dan Komunitas katekese, (2) Merawat Pertumbuhan, yaitu: Ekaristi kaum muda; Berbagi tugas liturgi; Mendorong mereka untuk memilih karya pastoral sesuai dengan minat dan bakat; Membentuk kelompok paduan suara, komunitas paduan suara, dan melaksanakan Ekaristi Kaum Muda (EKM); Program kerja Rabu Pintar yang bertujuanbrainstromingsetiap anggota, strategi buat tema yang sedang hitsdi kehidupan anak-anak sekarang; Weekend with you: Pertemuan di akhir pekan setiap bulannya; Bible Campdan Baksos, (3) Menuai Panen, yaitu: Koordinasi berkala antara Pengurus OMK dan Pengurus Kategorial; Terlibat kegiatan / ambil bagian; Penawaran kesehatan buat warga paroki; Diskusi dan Kaderisasi.

 

Pelatihan TFT juga telah menghasilkan draft modul, berupa: Ekaristi Kaum Muda (EKM), Katekese, Kaderisasi, Hubungan antar Agama dan Kemasyarakatan, Ngopi Rong (Ngobrol Pintar Rohani Bareng), dan Pendidikan Politik. Melalui modul tersebut diharapkan ada kegiatan nyata di OMK Paroki.

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *