Temu Raya OMK Sintang untuk Menghasilkan Buah

Temu Raya OMK KeSi (Keuskupan Sintang) kembali diselenggarakan pada 19 – 22 Juni 2018. Tuan rumah kali ini adalah dekanat Kapuas Hulu atau tepatnya di Putussibau, Kalimantan Barat. Tema yang diambil : “Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah” (Yoh. 15:16).

Acara ini digelar rutin 3 tahun sekali, sebelumnya tahun 2015 diselenggarakan di Sintang. Kurang lebih 1200 OMK dari 36 paroki yang ada di Keuskupan Sintang, berkumpul, berdoa , belajar maupun berekspresi seni bersama.

Hari pertama (19 Juni 2018) Pembukaan Temu Akbar ini oleh Uskup Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM.Cap dan Bupati Kapuas Hulu , Bp. AM Natsir. Setelah pembukaan, peserta melakukan pawai kebhinekaan dari Gedung Olahraga Kabupaten menuju lokasi acara di halaman SMP SMA Karya Budi, Putussibau.

Menurut Pastur Chrispinus Longa, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Sintang, peserta pawai kebhinekaan ini berasal dari berbagai wilayah, mengenakan pakaian adat, yang umumnya menggambarkan beragamnya suku Dayak. Ada yang mengenakan pakaian Dayak Iban, Punan, Taman, Kayan, dll. Namun ada juga yang mengenakan pakaian adat Jawa, Melayu, Tionghoa, dll. Ini mencerminkan beragamnya masyarakat yang ada di Kalimantan Barat. Tidak ketinggalan dalam pawai ini diikuti pemuda pemudi lintas iman.

wisnu

Hari kedua dan ketiga, setiap pagi sampai sore, peserta mendapatkan materi pendalaman iman dengan beberapa pembicara seperti Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM.Cap (Uskup Sintang) memberikan materi Lingkungan Hidup, Bayu Wardhana (Komisi Kepemudaan KWI) memberi tentang Orang Muda, Iman dan Panggilan, Istoto Suharyoto (motivator) memberikan materi Motivasi , Aloysius Wisnuhardana (Kantor Staf Presiden) menyampaikan materi Media Sosial, Yohanes Rumpak (CU Keling Kumang) dengan materi kepemimpinan. Di hari ketiga, peserta melakukan pengakuan dosa dengan dilayani kurang lebih 30 lebih pastor yang berkarya di Keukupan Sintang

Dan selama 3 malam berturut-turut, peserta menampilan pagelaran seni. Kekayaan budaya Dayak sangat menonjol ditampilkan. Seperti musik sape, tarian Dayak dari berbagai suku. Ini saatnya peserta berekspresi diri, berkarya lewat seni, kerjasama dan memberikan yang terbaik.

Di hari terakhir, 22 Juni 2018, Misa Penutup dipimpin oleh Ketua Komisi Kepemudaan KWI, Mgr. Pius Riana Prapdi yang sekaligus juga Uskup Ketapang. Acara Temu Raya kemudian ditutup dengan lagu Tanah Airku ciptaan Ibu Sud.

salah satu paroki

Post Author: admin2

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *