Tentang Rekonsiliasi

Teori-teori tentang perdamaian mengajarkan bahwa ada tahapan yang harus dilalui agar orang sampai pada rekonsiliasi.

 

Pertama, harus ada pengakuan dari pelaku maupun korban. Kedua, ada penerimaan. Ketiga, ada pengampunan. Jika semua tahap itu berlangsung, barulah rekonsiliasi dapat terjadi.

 

Akan tetapi kita hidup di dunia yang tidak sempurna, tidak ideal, dan mungkin juga tidak selalu dapat dirumuskan menjadi teori.

 

pertobatan anak hilangTidak selalu pelaku kejahatan mengakui perbuatannya. Tidak selalu kedua pihak dapat menerima pengakuan atau situasi yg sedang berjalan. Tidak mudah memberi pengampunan. Tidak mudah juga akhirnya, tercipta rekonsiliasi.

 

Kita memang diciptakan sebagai manusia. Akan tetapi panggilan kita adalah melampaui keterbatasan manusiawi, dan menjadi sempurna seperti Allah itu sempurna.

 

Dalam situasi ketika mekanisme-mekanisme kehidupan tidak berjalan dengan baik, itulah saat ketika rahmat Allah harus diminta.

 

Kita tidak perlu menuntut pengakuan ketika bersama Allah, kita menemukan kebenaran. Kita tidak perlu memaksa penerimaan terjadi ketika bersama Allah, kita kembangkan kerendahan hati untuk menerima apapun yang terjadi. Kita tidak perlu menuntut pengampunan ataupun memaksa diri untuk mengampuni jika bersama Allah, karena Ia adalah belas kasih yang sejati. Dan pada akhirnya, kita tidak perlu bertanya-tanya apakah rekonsiliasi sudah terjadi karena bersama Allah, semua sudah diperdamaikan dan dipulihkan; bukan hanya saat ini, namun juga sejak dulu kala dan sampai selamanya.

 

Bersama Allah, kita bisa melakukan segala.. bahkan yang tidak mungkin di mata manusia.

 

Ingatlah pengalaman para jemaat perdana. Guru & imam mereka dapat menanggalkan jubah lalu membasuh kaki murid-murid-Nya. Murid-murid itu sendiri juga dapat melepaskan segala sesuatu (ego, harta, kepentingan diri dsb) untuk mengikuti guru yg dikasihinya. Pada puncak pelayanan dan cinta, mereka rela mati untuk satu sama lain.

 

Jika mereka, Sang Guru dan jemaat perdana pernah melakukanya, bukankah kepada mereka seharusnya kita berkaca? Kita berjalan di jalan yang sama, untuk menuju satu tujuan saja: kepenuhan Kerajaan Allah. Apakah yg bisa mengantarkan kita untuk sampai ke sana selain kasih, pengorbanan & pengampunan?

 

(helena d. justicia)

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *