Kepercayaan dan Cinta

index1Saat misa arwah Sdr. Florentius  Novel Indek kemarin (17/08), beberapa orang menyampaikan kesan-kesannya. Hampir semuanya sama: Indek adalah sosok yang baik hati, bersahabat, menolong, selalu mau membantu, dan dapat diandalkan. Pemberi kesaksian tercekat oleh isak tangis karena keharuan mendalam.

 

Rm. Sutarno yang memimpin Perayaan Ekaristi, menyebut Indek sebagai pelayan yang tidak birokratis. Dalam melayani, Indek memberikan diri begitu saja, tulus dan sepenuhnya. Tidak banyak bertanya, tidak pernah mempersoalkan, tidak butuh legalitas.

 

index2Kesaksian tentang Indek itu membuatku terpekur. Aku mungkin lebih tua dan lebih lama melayani daripada Indek, tapi aku belum bisa menampilkan diri seperti dia. Dalam pelayanan, aku suka sekali membuat mekanisme, SOP, legalitas. Bagiku semua harus jelas, tertata dan sistematis. Ada satu saja prosedur tak sesuai, aku bisa gelisah.

 

Jika aku renungkan, apa yang selama ini kulakukan tadinya adalah semacam isyarat kedisiplinan, penataan diri dan hidup. Namun ketika hal itu disandingkan dengan cara Indek melayani, aku jadi melihat sisi lain yang selama ini tak kupahami.

 

Mekanisme kerja, legalitas, juga dapat menjadi suatu proyeksi karena kurangnya kepercayaan kepada orang lain. Butuh suatu jaminan untuk pelayanan ini; mungkin agar efisien, efektif,  mungkin juga supaya tidak terluka atau kecewa.

 

Indek tidak butuh jaminan itu. Ia memberikan saja dirinya, entah akan disuka atau terluka. Sampai wafatnya ia setia; suatu tanda bahwa dengan apapun yang terjadi, ia tetap melayani.

 

Untuk dapat melakukan pelayanan seperti itu, dibutuhkan cinta yang sungguh. Mungkin juga seperti pernah diistilahkan penyair Goenawan Mohammad: cinta yang keras kepala. Aku jadi merasa kurang mempunyai cinta, tidak sebanyak yang Indek punya.

 

Kepercayaan dan cinta, dua kekuatan yang memampukan kita melihat kehendak sejati Allah di balik semua peristiwa kehidupan. Pun dengan wafatnya Indek di usia yang muda, 31 tahun. Indek bahkan lebih muda daripada Yesus saat wafat di salib.

 

Barangkali ini juga adalah suatu tanda bahwa kesempurnaan hidup dapat dicapai selekas-lekasnya jika sungguh mau membuka diri bagi rahmat dan pertolongan Allah. Indek sudah paripurna, dalam kepercayaan dan cintanya, juga bagi dunia yang fana. Indek dengan kepercayaan dan cintanya, sudah pergi meninggalkan kefanaan itu, untuk menyongsong kebebasan dalam keabadian.

 

Yesus menitip pesan kepada para perempuan Yerusalem yang menangisi-Nya dalam perjalanan menuju Golgota: jangan menangisi Aku, tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu.

 

Pesan itu tampaknya ditujukan juga bagi kita. Jangan menangisi yang pergi. Tangisilah yang masih ada di sini, yang berjuang untuk bisa pergi. (JH)

*)Indek adalah anggota pengurus komkep KAJ dan ambil bagian dalam kepanitiaan-kepantiaan pengembangan orang muda. 

 

Post Author: admin

1 thought on “Kepercayaan dan Cinta

    Sivani Simamora

    (Agustus 18, 2018 - 22:40)

    Menurut saya Bang Indek adalah orang yang terbaik dan tertulus yang pernah saya temui, saya masih belum percaya bahwa bang indek sudah tiada bersama kami ini.
    Saya yakin bang indek udah bahagia bersama Tuhan Yesus diatas, dia melayani dengan tulus dan ikhlas, tanpa berfikir itu merugikan bagi dirinya atau tidak, saya juga pelayanan dan sama seperti bang indek apa yang sudah di tugas kan dan diberi kepercayaan sama kita, ya kita harus mengerjakan nya dengan total, tapi saya ga seperti bang indek, ia mengerjakan segala sesuatu dengan ikhlas, sabar, ya pokoknya sebaik mungkin lah, saya salut dan bangga bisa kenal dengan bang indek, saya menganggap bang indek sudah seperti abang, sahabat, saudara saya, sampai akhir hayatnya pun bang indek menyerah kan hidup untuk sepenuhnya melayani Tuhan, dan sebelum ia sakit ia bersedia membantu saya dalam mengerjakan suatu tugas yang saya yakin saya tidak sanggup untuk mengerjakan nya sendiri, dan bang indek menawarkan diri untuk membantu wilayah saya untuk mendekor gereja untuk perayaan Natal, tadinya saya sempat putus asa karena tidak ada yang bisa membantu saya dalam mengerjakan nya dan saya langsung tenang ketika bang indek bersedia membantu wilayah saya.
    Tapi kenyataannya sebelum Natal bang indek udah gaada 😭😭😭 jujur saya masih belum bisa percaya bahwa bang indek udah gaada 😭😭😭 Tapi saya percaya bahwa dia sudah bahagia bersama Tuhan diatas.. kami akan mewujudkan impian abang, doain kita yang masih berziarah di dunia ini ya bang.. We love you bang indek 😘😘😭😭

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *