Korea Pilgrimage Week 2018 (Archdiocese of Seoul)

Hari 2 – 12 September 2018

 

koreah13Hari kedua kami di Seoul disambut dengan sinar matahari yang cukup hangat. Hal berbeda kami alami pada hari ini, kami berangkat menggunakan bus pariwisata bersama dengan bus pariwisata rombongan Romo dan Uskup Asia yang juga diundang untuk program Korea Pilgrimage Week. Bus kami perlahan menaikkan laju menuju ke tujuan ziarah hari ini, yaitu Solmoe Shrinedan Haemi Shrine yang berada di Provinsi Chungcheong. Dua jam perjalanan lebih dilalui, kami berhenti sejenak di rest areauntuk melepaskan penat. Disini kami berkenalan dengan dua orang Romo dari Indonesia, yaitu Romo Aria Dewanta, SJ dan Romo Andreas Tri Adi MSF; yang merupakan Ekonom dan Sekretaris Keuskupan Agung Semarang. Bahagia tentu kami rasakan setelah bertemu dengan beliau berdua, dan kebahagiaan bertambah ketika kami disapa dan sempat berfoto dengan Archbishop(Uskup Agung) Salvatore Rino Fisichella; perwakilan dari Vatikan. Hampir 1 jam kemudian, sampailah kami di Solmoe Shrine (Solmoe berarti bukit kecil pohon pinus) yang merupakan tempat lahirnya Santo Andrew Kim Dae-gon, Romo lokal pertama asli Korea. Disini imajinasi kami dibawa ke masa lalu, saat orang-orang berkumpul untuk belajar kekatolikan secara rahasia. Selesai berkeliling di Solmoe Shrine mendengarkan penjelasan seputar Kompek Perziarahan ini kami tutup dengan Misa Kudus yang dibawakan konselebrasi oleh 1 Diakon, 15 Pastor, 10 Uskup (termasuk beberapa Uskup Agung) dan sebagai selebran utama yaitu Uskup Agung Romulo Geolina Valles asal Filipina. Setelah Misa Kudus, dilanjutkan sesi berfoto bersama dan ditutup dengan makan siang dengan menu khas Korea, kemudian kami bergegas menuju Haemi Fortressdan Haemi Shrineyang hanya berjarak 30 menit perjalanan dari Solmoe Shrine.

koreah11Begitu menginjakkan kaki di Haemi Fortress, kami begitu terpukau akan keindahan yang memanjakan mata berupa hamparan lahan hijau, benteng batu yang mengelilingi Haemi, dan rumah tradisional. Sayangnya, kisah Haemi di masa lalu tidaklah seindah pemandangan saat ini. Haemi Fortress merupakan tempat di mana seribuan umat Katolik diadili secara tidak adil (tanpa persidangan) dan dieksekusi hingga mati. Puluhan tahun eksekusi dilakukan dengan berbagai macam cara yang sungguh kejam, mulai dari tubuh digantung dan dipukuli menggunakan tongkat kayu, kepala dipenggal, kepala dibenamkan ke dalam kolam, hingga dikubur hidup-hidup secara bersamaan. Lalu Umat Katolik ketika itu dipaksa untuk mengingkari iman mereka dengan menginjak salib Yesus yang berada di pintu gerbang benteng; dengan nyawa merekalah yang menjadi taruhannya. Namun, entah apa yang merasuki diri mereka bukannya ketakutan, mereka justru menyerukan nama Yesus Maria dengan penuh sukacita.

koreah14Sedangkan, di lokasi Haemi Shrine, jenazah umat Katolik dibuang begitu saja; hingga akhirnya puluhan tahun kemudian ditemukan sisa-sisa tulang manusia dan gigi; bahkan gigi anak-anak. Dari seribuan umat Katolik masa itu yang dieksekusi, hanya 130 orang yang tercatat namanya di dalam sejarah. Di Haemi Shrine ini pula kami menonton film dokumenter mengenai sejarah tempat tersebut, yang sangat membantu kami memahami kesucian dan sebagai saksi hidup Iman Katolik yang tetap diperjuangkan walau harus diganti dengan nyawa. Untuk menuju kota di lokasi makan malam Korean Pork BBQ yang disebut dengan samgyeopsal,kami memerlukan wartu lebih dari 2 jam, dan kegiatan malam mini ditutup oleh pertunjukkan danceboyband SJB boys di daerah Hongdae.

koreah12Di akhir hari kedua ini, kami merasakan bahwa iman kami makin dikuatkan setelah melihat kembali dari sejarah dan peninggalan para martir dalam mempertahankan imannya meskipun harus kehilangan nyawanya. Sedangkan kami menganalogikan bahwa zaman sekarang kalau  kita tidak bisa “memanggul salib” ataupun “menyangkal diri” untuk menjadi lebih baik menjadi Murid Kristus dalam kehidupan sehari-hari maka kita sudah “kehilangan nyawa”.

Mari kita merefleksikan bersama di hati kita masing-masing, bagaimana cara kita sebagai Orang Muda Katolik, mempertahankan iman di tengah tantangan zaman ini?

Tuhan Memberkati..

 

-Tim “Korea Pilgrimage Week” Indonesia-

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *