Selangkah Menuju Sinode Orang Muda

DSC_2860Komisi Kepemudaan KWI yang bekerja sama dengan Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI menyelenggarakan sebuah seminar sinode dengan tema Orang Muda, Iman, dan Diskresi Panggilan pada Sabtu, 29 September 2018 lalu di Aula K22.02 Universitas Katolik Atmajaya, Semanggi. Terdapat lima pembicara dalam seminar tersebut yaitu Mgr. Pius Riana Prapdi sebagai Uskup Keuskupan Ketapang dan Ketua Komisi Kepemudaan KWI, Anne Aprilia Priskila dan Dewi Kartika sebagai peserta Pra-Sinode, Anastasia Indrawan sebagai peserta Sinode, serta Dr. Yohana Ratrin Hestyanti sebagai psikolog dan dosen di Universitas Katolik Atmajaya. Seminar ini dimoderatori oleh Hieronymus Kopong Bali dan dihadiri oleh aktivis orang muda, pendamping orang muda, para biarawan dan biarawati dari tarekat religius.

 

DSC_2853Seminar Sinode ini dilakukan sebagai sebuah upaya sosialisasi sebelum Sinode Orang Muda 2018 dilangsungkan pada 3-28 Oktober nanti dan sarana untuk mengomunikasikan hasil survei terhadap orang muda Katolik yang sudah diolah dan disimpulkan menjadi satu halaman intervensi pada sinode nanti. Intervensi yang waktunya dibatasi sekitar tujuh menit akan disampaikan oleh Mgr. Pius dan Mgr. Adrianus Sunarko, OFM sebagai perwakilan dari Indonesia yang didampingi oleh Anastasia Indrawan sebagai observer Sinode Orang Muda tersebut. Tidak hanya sebagai sarana sosialisasi, seminar ini juga menjadi sebuah kesempatan untuk sharingpengalaman para peserta Pra-Sinode. Juga untuk mengenalkan cara berdialog dengan hati nurani yaitu melalui 3Myaitu Melihat, Merenungkan, dan Memutuskan.  

 

Toleransi Antar Umat Beragama

DSC_3021Dewi Kartika, seorang muslim dan Gusdurian Semarang, berkesempatan untuk ambil bagian dalam Pra-Sinode bulan Maret lalu di Vatikan. Ia memiliki pengalaman yang sungguh menarik, dimana seorang muslim sangat dihargai dan disediakan tempat untuk sholat dan berdoa. Dewi yang berasal dari keluarga yang plural ini pun membagikan pengalaman ini kepada teman-temannya di Indonesia. Ia berharap Indonesia juga bisa menjadi negara yang toleran seperti Vatikan. “Kita perlu mencontoh negara yang 100% Katolik itu (Vatikan),” ujar Dewi sebagai salah satu pembicara.

 

Anne Aprilia Priskila, juga menambahkan bahwa Gereja Katolik menerima 300 orang muda dari berbagai latar belakang, baik yang non-Katolik hingga yang tidak beragama sekalipun dalam Pra-Sinode Orang Muda lalu. “Hal ini menunjukkan bahwa gereja memiliki sisi yang sangat demokratis dan mempunyai citra yang baik,” ujar Anne. Ia menambahkan bahwa dalam Pra-Sinode tersebut, ada kesempatan untuk berdiskusi dalam kelompok kecil dengan didampingi oleh fasilitator. Anne mengungkapkan bahwa fasilitator tersebut hanya membimbing diskusi saja dan tidak akan ikut campur dalam dialog dan opini peserta Pra-Sinode yang juga orang muda. “Adanya sikap egaliter yang sangat saya apresiasi,” ujarnya.

 

Hasil Survei OMK Indonesia

Selain itu, ada juga penjabaran materi soal survei yang sudah dilakukan oleh Komisi Kepemudaan KWI terhadap orang muda Katolik sebagai respondennya. Dari rentang usia 13-35 tahun inilah, tim survei, tim kicau sinode, dan pengurus Komisi Kepemudaan KWI menganalisis dan menyimpulkan seluruh jawaban yang ada. Dilakukan juga Forum Group Discussion(FGD) per regio untuk mengonfirmasi kepada pendamping dan mengumpulkan data lagi dengan lebih mendalam.

 

DSC_3025Hasilnya antara lain adalah soal orang muda yang masih memandang baik soal Gereja dan orang muda ingin Gereja berjalan bersama dengan mereka. Kemudian, keluarga menjadi komunitas pertama dan utama untuk membimbing mereka. Dunia digital juga dirasa penting dalam kegiatan orang muda dan pastoral Gereja. Acara temu orang muda masih diperlukan dengan kegiatan yang berkelanjutan dan dibutuhkan pembimbing rohani bagi mereka melalui kegiatan pengembangan minat dan bakat.

 

Kesetiaan dan Niat Baik

Beberapa peserta tampak mengajukan pertanyaan kepada pembicara, salah satunya adalah Bernadett yang menjadi pembimbing orang muda di parokinya. Ia bertanya bagaimana caranya mengajak orang muda Katolik untuk ikut serta dalam kegiatan pengembangan orang muda serta mengajak mereka untuk melek politik. Hal ini pun dijawab oleh peserta Sinode yaitu Anastasia Indrawan yang menceritakan pengalamannya ketika menjadi Ketua OMK di Stasi Fransiskus Asisi Mall Taman Anggrek. Stacy, panggilannya, mengatakan bahwa ia memulainya dengan tujuh orang anggota saja dan kini sudah menyentuh angka seratusan anggota. “Untuk mengajak orang muda diperlukan kesetiaan dan niat baik,” ujar Stacy. Walaupun nantinya ada yang keluar dan masuk kembali, hal tersebut adalah dinamika yang ada dan menjadi sebuah pengalaman. Perlu merangkul semua orang muda dan setiap prosesnya akan menghasilkan buah yang baik.

 

Mgr. Pius juga menambahkan bahwa untuk mengajak orang muda diperlukan metode yang tepat. “Cara pendamping mengajak orang muda adalah berjalan bersama dengan mereka sendiri,” ujar beliau. Tidak hanya itu, Dr. Yohana juga menambahkan bahwa orang muda adalah agen perubahan maka perlu didampingi dengan intens dan memerlukan pendekatan yang positif. “Bila pendamping menganggap orang muda adalah orang yang optimis dan memiliki visi ke depan, maka metodenya akan sangat persuasif. Namun bila pendekatannya sudah negatif, maka metodenya akan cenderung represif,” ujar Dr. Yohana.

 

Gereja Mendengarkan

Mari kita doakan dan dukung Sinode Orang Muda 2018 : Orang Muda, Iman, dan Diskresi Panggilan agara dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan sebuah terobosan baru dalam Gereja yang nantinya akan diimplementasikan dalam Gereja itu sendiri. Bagi Mgr. Pius, Mgr. Adrianus dan Stacy, semoga Tuhan melindungi Monsinyur dan Stacy dalam setiap kegiatan yang akan berlangsung di Vatikan pada 3-28 Oktober nanti.

 

Penulis    : Benediktus Tandya Pinasthika

Foto                           : Tim Dokumentasi

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *