BERJALAN BERSAMA DENGAN CINTA: Temu Komkep Regio Papua 27-29 Juli 2022

Setelah sekian waktu tak pernah bertemu, tanggal 27 – 29 Juli 2022, di Dosay, Keuskupan Jayapura, Komisi Kepemudaan se-Regio Papua bisa berjumpa dalam sukacita. Pertemuan Komisi Kepemudaan (Komkep) se-Regio Papua diadakan di Pusat Spiritualitas St. Yohanes Paulus II. Pastor John Bunay, Ketua Komkep Jayapura, sekaligus pengelola Rumah Retret ini menyambut kami dengan riang. Ada satu keuskupan yang tidak bisa hadir yaitu Keuskupan Sorong. Selain itu, empat keuskupan yang lain hadir: Keuskupan Timika hadir Rm. Maxi beserta tiga pengurusnya, Keuskupan Agats hadir Rm Lukas, Keuskupan Merauke hadir Rm. Ever beserta satu pengurusnya, dan tentu saja tuan rumah Keuskupan Jayapura, hadir Rm. John beserta 3 pengurusnya. Kami dari Komkep KWI, hadir Rm. Kristi Adi ditemani Bella, salah satu Pengurus Komkep KWI.

Dinamika acara dibuat dalam suasana santai tapi mendalam. Rumah Retret yang hening dan tak bisa menangkap sinyal seluler justru secara tak langsung menciptakan suasana akrab antar kami, dan mendukung suasana pertemuan yang dikemas santai tapi dalam sharing-sharing yang mendalam. Pertemuan dibuka dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Kristi Adi. Dalam homilinya, Rm. Kristi Adi menyampaikan terima kasih karena para pendamping orang muda Regio Papua berkenan hadir dalam pertemuan ini. “Kehadiran teman-teman semua di tempat ini, layaknya seseorang yang mempersembahkan segala sesuatunya untuk mendapatkan mutiara, “ kata Rm. Kristi Adi dalam homili.

Setelah Ekaristi, kami berkumpul untuk berbagi cerita tentang rasa-perasaan kami dalam mendampingi orang muda. Rm. Kristi Adi membuka sharing dengan menceritakan empat perubahan cara pandang dalam mendampingi orang muda, yaitu dari organizing event ke organizing people, tersentral ke akar (bukan lagi terpusat tapi justru menyapa mulai dari keuskupan-keuskupan – seperti ajakan Paus Fransiskus saat menggemakan Hari Orang Muda Sedunia), tak hanya berfokus pada OMK tapi juga meningkatkan kapasitas pendampingnya lewat modul pendampingan dan kursus formator, serta pentingnya jejaring. Disusul sharing teman-teman pendamping yang merefleksikan secara rohani karya pendampingan orang muda. Kebanyakan teman-teman bercerita tentang awal mula mereka masuk dalam pendampingan OMK. “Saya taat pada Uskup yang menugaskan saya”, demikian diungkapkan Rm. Ever, Ketua Komkep Merauke. Tapi meski semua bertolak dari ketaatan, para pendamping ini sepakat, bahwa kami harus ada dan berjalan bersama OMK. Para pendamping juga sepakat bahwa ketrampilan mendampingi perlu selalu diperbaiki, tapi lebih penting juga seorang pendamping memiliki hati pada pendampingan orang muda. Rm. Maxi, Ketua Komkep Timika, mengungkapkannya demikian, “menemani orang muda itu harus dijalani dengan penuh cinta.”

Bella, dari Komkep KWI, kemudian menghantar kami untuk memahami tentang design thinking, suatu metode yang juga digunakan di dunia entrepreneurship untuk melihat masalah dengan baik, mencari prioritas masalah yang harus diselesaikan, dan kemudian mencari solusinya. Teman-teman asyik mencatat dan kemudian berbagi beberapa masalah yang dihadapi langsung terkait pendampingan orang muda.

Hari kedua pertemuan diisi dengan pemaparan program masing-masing keuskupan. Ada beberapa tantangan yang terungkap dalam sesi ini. Tantangan pendampingan orang muda ini misalnya: situasi geografis yang sulit, ada banyak orang muda yang berada di hutan, antar paroki bisa menggunakan pesawat atau kapal karena bukit-bukit, dan dipisahkan laut. Tantangan yang lain terkait dukungan dari pastor paroki atau keuskupan, biaya pendampingan yang cukup besar, minimnya modul pendampingan, regenerasi, dan anggapan negatif orang-orang tua pada anak-anaknya yang masih muda. Beberapa solusi yang kemudian dipikirkan bersama adalah penyediaan modul pendampingan oleh Komkep KWI yang nantinya bisa dikontektualisasikan oleh teman-teman pendamping di Papua, pentingnya jejaring pendamping orang muda di tingkat regio, juga kerjasama dengan para pastor paroki dan bapa Uskup, perlunya pendampingan orang muda mulai dari komunitas basis sehingga semua orang muda di keuskupan tersapa, usaha-usaha kreatif untuk mencari dana bagi Regio misalnya iuran atau beternak babi, dll.

Setelah pembicaraan tentang Indonesian Youth Day Palembang 2023 dan Papua Youth Day 2025 di Keuskupan Timika selesai, kegiatan pertemuan ini ditutup dengan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm John Bunay. Rm. John, yang dalam pertemuan ini, banyak berbagi cerita lucu Papua, mengajak kami untuk merenungkan panggilan kami sebagai pendamping orang muda. Jangan takut untuk punya mimpi dan mewujudkannya. Acara hari kedua juga diisi renang bersama di kolam renang rumah retret, makan ikan bakar, daging kasuari, dan canda ria bersama.

Hari ketiga, kami meninggalkan rumah retret dan menuju Jayapura untuk bertemu Bapa Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar. Kami juga berkunjung ke biara OFM di jayapura dan ke beberapa destinasi wisata. Kami mensyukuri perjumpaan ini sebagai perjumpaan penuh kasih dan persaudaraan, saling menguatkan dalam pendampingan orang muda, dan mengiyakan bahwa seorang pendamping orang muda harus mau melayani dengan hati dan happy, serta dibekali ketrampilan pendampingan orang muda yang mumpuni. Semangat, berjalan bersama.

 

Post Author: komkep kwi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *