Tentang Kami

TENTANG K3WI (BAHASA INDONESIA)
1. PENDAHULUAN

Kaum muda adalah harapan Gereja, bangsa dan negara. Mereka adalah penentu, sekaligus pembaharu Gereja, masyarakat, bangsa dan negara di masa depan. Di atas pundak mereka terletak tanggung jawab bagi kelangsungan hidup dan perekembangan gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Demi tugas dan tanggung jawab di masa depan itu, Gereja Indonesia senantiasa memperhatikan, meningkatkan dan mengembangkan pembinaan dan pendampingan kaum muda. Dalam kerangka ini, Komisi Kepemudaaan dibentuk di tingkat nasional (Konperensi Waligereja Indonesia) dan di tingkat lokal (keuskupan). Komisi-komisi Kepemudaan tersebut merupakan perangkat Gereja yang secara khusus memberi perhatian pada pembinaan dan pendampingan kaum muda.

2. STRUKTUR

Di tingkat nasional Komisi Kepemudaan disebut Komisi Kepemudaan Konperensi Waligereja Indonesia (KWI) dan bertempat di Jakarta. Komisi Kepemudaan KWI diketuai oleh seorang Uskup yang dipilih dalam Sidang Sinode KWI setiap tiga tahun. Ketua diwakili oleh seorang Sekretaris Eksekutif. Komisi ini dipimpin oleh sejumlah pengurus. Pengurus-pengurus ini terdiri dari Pengurus Inti, Pengurus Harian, dan Pengurus Pleno. Pengurus-pengurus tersebut diangkat oleh Presidium KWI.

Di tingkat keuskupan Komisi Kepemudaan disebut Komisi Kepemudaan Keuskupan, diketuai oleh seorang Ketua Komisi yang diangkat oleh uskup setempat. Komisi-komisi Kepemudaan Keuskupan dalam suatu Propinsi Gerejani tergabung dalam suatu koordinasi. Koordinator Komisi-komisi Kepemudaan tersebut disebut penghubung. Penghubung ini dipilih dari antara Ketua-ketua Komisi Kepemudaan di Propinsi Gerejani bersangkuatan dan diangkat oleh Uskup Agung. Selanjutnya nama penghubung diajukan kepada Komisi Kepemudaan KWI untuk seterusnya dimintakan pengesahan dari Presidium KWI. sekarang terdapat 34 Komisi Kepemudaan Keuskupan yang terbagi dalam 8 Propinsi Gerejani. Pengurus Inti mengadakan rapat setiap ada keperluan. Pengurus Pleno terdiri dari Pengurus Inti, Pengurus Harian, ditambah dengan Penghubung-Penghubung. Tapat semua Ketua Komisi Kpemudaan Keuskupan dalam tingkat nasional diadakan tiga tahun sekali.

3. PERAN KOMISI KEPEMUDAAN

Pada dasarnya pembinaan dan pendampingan kaum muda adalah tanggung jawab seluruh umat Allah (keluarga, sekolah, asrama, komisi, lembaga/ wadah/ organisasi/ gerakan kepemudaan di lingkungan Gereja), masyarakat dan Pemerintah. Peran Komisi Kepemudaan KWI dalam hal ini ialah melayani, menciptakan komunikasi dan kerja sama dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pembinaan dan pendampingan kaum muda; meng-informasikan dan menjelaskan visi pembinaan yang diinginkan Gereja; serta memotivasi dan menganimasi pembinaan-pembinaan yang telah dilaksanakan di keuskupan-keuskupan.

4. PELAYANAN

Sebagai perangkat dari KWI, Komisi Kepemudaan KWI menghadiri rapat rumah tangga Kantor Waligereja Indonesia dan rapat Sekretariat Jendral; serta mewakili KWI untuk hal-hal yang berhubungan dengan kepemudaan, baik di dalam maupun di luar lingkungan Gereja, di mana KWI diundang.
Sesuai tugas yang diberikan oleh KWI, Komisi Kepemudaan KWI tetap mendorong, memberi masukan, dan membantu fasilitas ala kadarnya bagi pembinaan-pembinaan yang diadakan ditingkat keuskupan atau Propinsi Gerejani, bahkan tidak jarang terlibat langsung dalam pembinaan. Namun, pembinaan di tiap keuskupan merupakan tanggungjawab langsung Komisi Kepemudaan Keuskupan. Komisi Kepemudaan KWI mempunyai program pekan latihan bagi para pembina kaum muda. Sasaran yang ingin dicapai adalah untuk menghasilkan pembina kaum muda yang bermutu di keuskupan-keuskupan.
Dalam tingkat nasional, Komisi Kepemudaan KWI mengadakan seminar, lokakarya, dan lain-lain bagi Ketua-Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan dan pembina-pembina kelompok/wadah/organisasi kaum muda lainnya. Tujuan dari kegiatan-kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kaum muda dan untuk menyatuikan persepsi tentang pembinaan kaum muda di antara Komisi Kepemudaan dan kelompok/wadah/organisasi kaum muda tersebut.
Komisi Kepemudaan KWI juga menykurkan paket-paket pembinaan untuk pembina-pembina di keuskupan-keuskupan, menyumbangkan buku-buku perpustakaan bagi daerah yang fasilitasnya terbatas dan sungguh memerlukan. Pelayanan ini bertujuan untuk memperbanyak sarana pembinaan bagi pembina, juga untuk menumbuhkan minat serta budaya baca dan memperluas wawasan pengetahuan kaum muda.
Komisi Kepemudaan KWI ikut merbitkan majalah EKAWARTA untuk mendukung pembinaan: memberi dan menerima gagasan, mengevaluasi serta mencari jalan bagi peningkatan kualitas pembinaan kaum muda. Penerbitan majalah ini diselenggarakan bersama dengan Lembaga Biblika Indonesia (LBI), Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) dan Komisi Kateketik (Komkat).
Komisi Kepemudaan KWI mencari dana untuk membantu pembiayaan pekan-pekan pembinaan yang diselenggarakan oleh Komisi Kepemudaan Keuskupan.
5. SEKRETARIAT

Komisi Kepemudaan KWI juga berfungsi sebagai sekretariat nasional bagi semua Komis Kepemudaan Keuskupan. Pelayanan sekretariat ini dikelompokkan dalam tiga bidang yaitu: Bidang Pembinaan, Bidang Dokumentasi, serta Bidang Penelitian dan Pengembangan. Setiap bidang ditangani oleh satu tim yang dipilih dari antar anggota Pengurus Inti, sebagai koordinator.
6. BIDANG-BIDANG PEMBINAAN

Pembinaan kaum muda menyangkut pembinaan iman dan kegerejaan, pembinaan kepribadian: mental spiritual, pembinaan kehidupan kemasayarakatan dan kengaraan. Bidang-bidang pembinaan tersebut menunjuikkan bahwa pembinaan yang dilakukan oleh Komisi Kepemudaan mencakup semua aspek kehidupan kaum muda. Jadi, selain pembinaan ìseputar altarî Komisi Kepemudaan memberi perhatian juga pada pembinaan yang berorientasi kemasyarakatan, mencakup bidang-bidang ideologi, politik, sosial, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan. Dalam rangka ìPembinaan Kualitas Generasi Bangsa dalam proses Pembangunan Dua Puluh Lima Tahun Keduaî pembinaan jangka panjang bagi kaum muda memberi tekanan pada pembinaan iman yang memasyarakat, pembianaan kepribadian, pembinaan nilai (etika/moral, nasionalisme, patriotisme, dll.), pembinaan kewarganegaraan yang berwawasan nusantara dan kebangsaan, pembinaan demokrasi, pembinaan kewirausahaan dan profesionalisme untuk meningkatkan kesejahteraan.

7. TUJUAN PEMBINAAN

Pembinaan-pembinaan ini tujuannya untuk membantu kaum muda menjadi mandiri, dan beriman sebagai anggota Gereja, masyarakat, bagsa dan negara yang beriman, tangguh dalam menghadapi tantangan-tantangan zaman dan tanggap terhadap kebutuhan Gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan orientasi pembinaan tersebut kaum muda ingin disadarkan bahwa Gereja Indonesia adalah Gereja yang sedang berjuang bersama rakyat Indonesia untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi 17 Agustua 1945. Yaitu masyarakat adil makmur jasmani dan rohani berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Keterlibatan kaum muda dalam mewujudkan cita-cita luhur Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan perwujudan hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat, perwujudan panggilan dan misinya sebagai orang kristen untuk membangun Kerajaan Allah di dunia. Oleh karena itu kaum muda diharapkan tidak lengah, melainkan tetap berperan serta dalam gerak dan nafas perjuangan rakyat Indonesia. Dengan demikian, sasaran pembinaan ialah membantu kaum muda semakin menghayati iman, panggilan dan misinya sebagai orang kristen di dunia; semakin menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga engara; semakin sadar, peka dan kritis terhadap realita sosial; semakin tanggap, berani bersuara, dan terlibat dalam hidup kemasyarakatan dan kenegaraan secara profesional dengan penuh tanggung jawab kristiani.

8. PENDEKATAN DAN METODE PEMBINAAN

1. Pendekatan
Pendekatan pembianaan yang digunakan ialah pendekatan pribadi dan kelompok.

1.1. Pendekatan Pribadi

Pendekatan pribadi dipakai karena pribadi manusia adalah khas. Sebab itu harus juga ditemui dan dibina dalam kekhasan itu sebagai diri yang unik, sehingga pribadi tersebut berkembang sepenuhnya.

1.2. Pendekatan Kelompok

Pendekatan ini merupakan pembinaan pribadi dalam kelompok maupun kelompok segai suatu kesatuan yang dinamis. Menurut ukurannya, kelompok dapat kecil dan dapat pula besar.

1. kelompok kecil: pembinaan yang efektif lebih mudah terjadi dalam kelompok kecil.
2. Kelompok besar: diperlukan pada kesempatan-kesempatan khusus, karena bermanfaat untuk meneguhkan serta memberi semangat.
2. Metode

Metode-metode yang digunakan dalam pembinaan umumnya adalah metode androgogi dengan ciri-ciri eksperiensial dan dialogis partisipatif.

1. Eksperiensial: berarti mengajak mereka menggumuli pengalaman-pengalaman hidup/iman untuk menemukan sendiri arti dan makna baru bagi perkembangannya.
2. Dialogis partisipatif: berarti melibatkan dan mengaktifkan para peserta bina untuk mengungkapkan diri sebagai pemeran utama dalam proses pembinaan.
9. PENUTUP

Komisi Kepemudaan KWI tidak bisa melaksanakan sendiri pembinaan kaum muda. Komisi Kepemudaan KWI bekerja sama dengan berbgai pihak yang menaruh perhatian terhadap pembinaan dan pengembangan kaum muda, baik yang berada dalam lingkup Gereja sendiri, maupun pihak pemerintah dan swasta lainnya yang terdapat di dalam dan di luar negeri. Kerja sama ini dapat berbentuk kelembagaan ataupun perorangan. Misalnya, selama ini Komisi Kepemudaan KWI mengadakan jaringan kerja sama dengan komisi dan lembaga KWI, antara lain: Komisi Kerawam, Komisi Kateketik, Komisi Pendidikan, Komisi Seminari, Komisi Keluarga dan KKI (Karya Kepausan Indonesia); juga dengan kelompok/organisasi/wadah kaum muda lainnya, seperti PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia), Pemuda Katolik, Gladi Rohani, PERSINK (Persaudaraan Siswa Negeri Katolik), KKMK (Kelompok Karyawan Muda Katolik), IYCS ( Internationasl Young Christian Students), IMCS (International Movement of Catholic Students), dll.

THE YOUTH COMMISSION OF
THE BISHOP`S CONFERENCE OF INDONESIA (BCI)

1. INTRODUCTION
Youth is the hope of church, nation and country. They are the decisive agent and renewer of church, nation and country in the future. It is in their shoulder lying the responsibility for the continuation of life and the development of church, society, nation and country. For the sake of the future task and responsibility, Indonesian church always pays attention to, cultivates and
develops the youth animation and formation. In this frame, the youth commission is built in national level ( The Bishops Conference Of Indonesia) and in local level (dioceses). These youth commissions are the part of church which especially pays attention to the youth animation and formation.

2. STRUCTURE

In national level the youth commission is called The Youth Commission of The Bishop’s Conference of Indonesia (BCI) and located in Jakarta. The Youth Commission of BCI is presided over by a bishop who is elected in the BCI’s Synode every three years. The chairman is represented by an executive secretary who runs the daily activities inthe office. This commission is directed by some board members which are called Pengurus Inti ( The Nucleus Board) and Pengurus Pleno (The Plenary Board). These board members are appointed by Presidium of BCI.

In diocesan level the youth commission is called diocesan youth commission which is presided over by a chairman who is appointed by the local bishop. Youth commissions in a ecclesiastical province are joined in a coordination. The coordinator of these provincial youth commissions is called the liaison who is chosen among chairmen of the diocesan youth commissions in the ecclesiastical province an appointed by the archbishop. Then, the name of the liaison is promoted to the Youth Commission of BCI which will extend it to the Presidium of BCI to be designated. Today, there are 34 diocesan youth commissions which are divided into 8 ecclesiastical provinces.

The Nucleus board holds a meeting once a year. The plenary meeting is once a year. The plenary board consist of the members of nucleus board added with the liaisons. The national meeting for all chairmen of diocesan youth commissions is done once two years.
3. THE ROLES OF YOUTH COMMISSIONS

Basically, youth animation and formation is the responsibility of all people of God ( family, school, boarding house, commission, youth institute/organization/group in the church circle), society and the government. Youth commission’s role in this case are to minister young people, create communication and cooperation with parts who are engaged in youth animation and formation, motivate and animate formations in dioceses, inform and clarify the vision of the formation hoped by the church.

4. SERVICES

  1. As a part of BCI, the Youth Commission of BCI participates in the monthly meeting of the Bishop`s Office of Indonesia and the meeting off its Secretariat General; also, to represent BCI for several matters which have connections with youth externally or internally where BCI is invited.
  2. In accordance with the task given by BCI , the Youth Commission of BCI is continuing to motivate, give inputs, and help to facilitate youth formation and animation in the diocesan or ecclesiastical province level. Even, we directly give the information itself. However, youth formation and animation in each diocese is the directly the responsibility of the diocesan youth commission.
  3. In nation level, the Youth Commission of BCI runs seminar, workshop, and other meetings for chairmen of diocesan youth commission and moderators of youth groups/organizations/institutions. The goals of these programs are to develop the quality of youth ministry, to unite the perception of youth formation among youth commissions and those youth groups/organizations/institutions.
  4. The Youth Commission of BCI also provides packets of youth formation for youth trainers and animators in dioceses, contributes library books for dioceses which are in limited facility and strong needs. This ministri is to increase facilities for youth formation, to grow the reading culture and disire, and to widen youth’s horizon of thinking and knowledge.
  5. The Youth Commission of BCI actively publishes bulletin “EKAWARTA” in order to support youth formation. This publication is held in cooperation with Indonesian Biblical Institution, Commission for Laity of BCI and Commission for Cathecetics.
  6. The Youth Commission of BCI seeks out funding agency to assist the cost of youth formation in dioceses held by diocesan youth commissions.

5. SECRETARIATE

The youth commission of BCI also function as a national secretariat for those diocesan youth commissions. The ministry of this secretariat can be divided into three fields: Formation, Documentation, and Research and Development. Each field is held by a team with a coordinator who is appointed among members of the Nucleus Board.

6. FIELDS OF FORMATION

Youth formation consists of the formation of faith and ecclesistical life, of personality: mental spiritual, of societal and national life. Those formation fields done by the Youth Commission of BCI shows us that they include all aspects of youth life. Thus, beside “around altar” formation, the Youth Commission of BCI also pays attention to the societal formation consisting of ideology, political, social-economis, social-culture, defense and security fields.

7. THE GOALS OF FORMATION

The goals of formation are to help young people to be autonomous, to live as a good citizen, a good member of Church, society, nation and country who is faithfull, firm in dealing with age challenges, and aware of needs of Church, sociate, country and nation. With is formation orientation, it is hope that youth should be aware that: (1) Indonesian Church is a church which is struggling together with Indonesian people to realize the ideals of Proclamation in 17 August 1945, i.e., physcally and mentally social welfare based on Pancasila ( Five basic Grounds) and UUD 45 (Constitution), (2) Youth commitment in realizing the great ideals of Proclamation in 17 August 1945 becomes a realization of rights and obligations as a citizens, of his call and mission as a Christian to build the Kingdom of God in the earth. Therefore, the aims of the formation are: to help young people to experience to the full their faith, call and mission as Christians in the world; to be more sensitive, critical and perceptive to the social reality; to be more perceptive, brave to talk and committed to the life of social and nation with fully responsible and Christian.

8. THE APPROACHES

The Personal Approach: Personal approah is used because human person is unique. Therefore, he should be met in this uniqueness as a special person. And so doing, this person can be developed fully.The Group Approach: This approach is a personal formation in a group formation as a dynamic unity. According to its size, groups can be divided into two kinds: small and big.

    1. Small group: An effective formation is happened more easily in a small group.
    2. Big group: A big group is necessary in a special chance because it is useful to strengthen and give support and spirit.

9. METHODS

method which are usually used in youth formation is called andragogy with experiential and participative-dialog characteristics.

    1. Experiential: It means to ask the participants (youth) to be engaged in their experience of life or faith in order to find by themselves the new meaning for their growth.
    2. Participative-dialogal: It means to make the participants (youth) to be committed ang active to share themselves as the role players in the formation process.

 

10. CONCLUSION

The Youth Commission oc BCI cannot do herself all youth formation. She has to make cooperation with various parts that give attention to youth formation and development, both in the church circle or government institution or other institutions inside or outsided Indonesia.

Here, for example the Youth Commission of BCI has a network with institutions and commissions of BCI: Commission for Laity, for Cathecetics, for Education, for Semanary, Institutions for Indonesian Catholic Family Welfare and Indonesian Papacy Work; a relationship and cooperation with youth groups/ organizations/institutions such as PMKRI (Indonesian Catholic Student Organization), Catholic Youth, Gladi Rohani, Persink (Brotherhood of Catholic Student in Public Schools), KKMK (Catholic Young Workers), YCS Asian, MCS Asian.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *