Latihan Pengembangan Diri Gladi Rohani Keuskupan Agung Semarang

Pemandangan puluhan orang muda dengan ransel di atas menjadi pemandangan yang tak biasa di depan Gereja Maria Asumta Pakem, 32 orang muda ini bukan menyiapkan diri untuk mendaki gunung Merapi yang memang dekat dengan Pakem, mereka adalah peserta Latihan Pengambangan Diri yang diadakan oleh Gladi Rohani Keuskupan Agung Semarang di Wisma Pentingsari Universitas Sanata Dharma 23-26 Oktober 2014.” Kegiatan LPD 2014 ini diadakan untuk menjawab kebutuhan orang muda khususnya mahasiswa dalam hal karakter, di dunia kampus orang muda sudah mendapat cukup banyak ilmu sesuai kebutuhan dunia kerja namun masih kurang dalam proses pembentukan karakter yang baik.” Terang dr Budi penasihat Gladi Rohani KAS.

Untuk menjadi pemimpin dalam dunia kerja, gereja dan masyarakat tidak cukup hanya intelektualitas namun juga karakter maka dari itu dalam kegiatan ini diisi oleh pemateri seorang psikolog agar apa yang disampaikan menjadi sangat relevan langsung dari praktisi. C.W. Adinugroho, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma menjadi penyaji utama dalam Latihan Pengembangan Diri kali ini dengan memberikan materi Konsep Diri, Sikap Positif, Mengampuni dan Menghargai Diri, Proaktif, Menentukan Tujuan Hidup, Menggapai Mimpi, Menjadi Pemimpin. Pun materi lain yang diberikan adalah Katolisitas oleh Rm Aria Dewanta, S.J. dan The Power of Dream oleh Markus Sargani mantan ketua APINDO Kutai Kartanegara.

Kegiatan diawali dengan Katolistitas oleh Rm Aria Dewanta, S.J. kemudian dibuka dengan misa. Peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi di Keuskupan Agung Semarang yaitu Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Akper Panti Rapih, Universitas Negeri Yogyakarta, Instiper, Universitas Negeri Tidar, Universitas Gajah Mada dan Universitas Sebelas Maret.

Dalam kegiatan ini yang menjadi fokus adalah Kemandirian, Kepemimpinan, Kebersamaan, Inisiatif, maka pada hari pertama peserta sudah diberi dinamika yang berbeda dari pelatihan-pelatihan lain, panitia tidak menyediakan semuanya dengan sempurna namun peserta sendiri yang mengatur hal-hal yang menyangkut kebutuhannya seperti tempat tidur, kamar mandi, kebersihan lingkungan, menyajikan minum pemateri, ice breaking, misa harian dan lain sebagainya diatur sendiri oleh peserta, maka pelatihan ini tidak hanya dalam sesi materi namun sepanjang alur proses kegiatan dari awal masuk sampai selesai.

Pada hari kedua peserta diajak untuk mengenal diri lebih dalam oleh C.W. Adinugroho, “Kalau Anda tidak suka dengan orang yang sok tahu, sebenarnya masalah bukan pada orang itu tapi pada diri Anda sendiri, kenapa tidak suka? Ada masalah apa dengan orang sok tahu? Atau memang Anda yang tidak ingin disaingi dengan pengetahuan orang lain?” Terang Adinugroho menjawab pertanyaan peserta.

Pada sesi-sesi hari kedua peserta diberi pemahaman bahwa semua bermula dari diri sendiri, semakin sensitif dengan perilaku orang lain justru makin menyiksa diri, maka sikap penerimaan diri dan orang lain secara utuh menjadi penting. Konstruksi sosial yang sudah terbentuk di masyarakat membuat semua orang mesti hidup dengan “syarat”, harus kantoran, harus pakai gadget terbaru, model pakaian terbaru dan kalau tidak mengikuti seoalah menjadi pribadi yang tertinggal.

Adinogroho menekankan bahwa setiap pribadi memiliki talenta atau kelebihan masing-masing dan tidak perlu terlalu sibuk mengikuti apa yang disyaratkan oleh hubungan bersosial. Dalam sesi makan setiap peserta menuliskan berat makanan masing-masing, hal ini sebagai bentuk pengenalan diri, tidak banyak peserta yang mendapatkan porsi yang tepat karena kebanyakan justru kebanyakan atau kurang, ada yang menuliskan 120 gram dan hanya mendapat sepotong ayam dan beberapa sendok nasi dan yang menuliskan 600 gram justru dapat porsi melebihi kemampuannya. Dinamika makan ini ditujukan agar setiap yang kita kerjakan sungguh dilakukan dengan sadar. “Waduh, dikit banget” Ungkap salah seorang peserta yang mendapat porsi makan kurang dari kebutuhannya.

Pada malam hari kedua Stering Comitte memulangkan 1 peserta yang ketahuan berbohong dengan menyimpan hand phonedi tas sedang peserta yang lain sudah mengumpulkan semua bentuk alat komunikasi dan alat elektronik. Hal ini juga sebagai bentuk penegasan proses, melatih kejujuran, karena pada Pelatihan Pengembangan Diri semua proses tergantung pada peribadi masing-masing, apakah mau mengikuti yang telah diberikan atau tidak pun dalam hal ini Gladi Rohani KAS fokus pada kualitas peserta dan bukan pada jumlah peserta.

Malam hari sebagai penutup proses peserta menuliskan niat dan doa, niat sebagai bentuk awal dari proses merubah diri menjadi lebih baik dan doa sebagai kekuatan niat yang telah dibuat, dilanjutkan dengan meditasi kesadaran tubuh dan peserta satu persatu dibawa keluar ruangan, dalam proses yang dipandu oleh Erwan, Ketua Gladi Rohani KAS ini peserta membacakan masing-masing niat yang sudah dituliskan kemudian dilanjutkan sesi saling mendoakan, peserta dan panitia menghampiri orang yang ingin didoakan, memegang tangannya kemudian mendoakannya lalu bergantian dan berganti pada peserta lain dan seterusnya, nampak suasana sakral dan hikmat pada sesi ini, bayang cahaya lilin menemani langkah tiap-tiap peserta dan panitia untuk saling mendoakan, karena doa adalah kekuatan.

Pada hari terakhir dari 4.30 – 10.30 waktu diberikan sepenuhnya pada peserta, panitia hanya memberikan 5 tema: Keakraban, Teamwork, Kepemimpinan, Mentalitas, Ketuhanan Yang Maha Esa pada 5 kelompok tugas. Hal ini untuk melatih kemampuan berpikir cepat dan kreatif, dalam waktu yang terbatas peserta dituntut untuk menyiapkan serangkaian acara dari mereka untuk semua peserta dan panitia. Kelompok Ketuhanan YME mengawali dengan meminta panitia Jalan Salib, meski hanya dengan properti dan waktu yang singkat nampak kekusukan dari teatrikal yang dilakukan panitia. Kemudian dilanjutkan dengan kelompok tematik lainnya, dalam sesi ini tidak ada lagi batas peserta panitia, semua membaur, bergembira dan bersukacita.

Seluruh proses pelatihan sepanjang 4 hari ditutup dengan misa oleh Rm Bagus Aris Rudiyanto, S.J. dilanjutkan dengan pembagian sertifikat dan penyematan gelang Jesus My Inspiration sebagai bentuk satu keluarga Gladi Rohani KAS.

 

Yohanes Bara

Post Author: admin

2 thoughts on “Latihan Pengembangan Diri Gladi Rohani Keuskupan Agung Semarang

    fx.cahyadi suryaputra

    (Mei 10, 2015 - 18:31)

    SUKSES ya .. . ada ACARA indah yang “panitia” menuntut kwalitas bukan kwantitas… salut … BOLEH USUL . . . pembicara/pengisi acara Anda teramat sangat mengINSPIRASI omk-omk … (tetapi 32 peserta ??? . . . KAS . . .) … YESUS menjangkau 5000 lelaki … mau kulitasnya tempe atau steak … “KASIH”KASIH”KASIH” (tabur) dulu … ALLAH BAPA kita kaya kok… (moga jangan hitun$-hitun$an)… bukan kita tapi TUHAN yang memilih . . .

    fx.cahyadi suryaputra

    (Mei 10, 2015 - 18:45)

    Semoga acara Academia Mediore tersosialisasi dengan baik, jangan lagi EXCLUSIVE bagi penggiat di WISMA MAHASISWA (KKN) saja,… semoga dapat menjangkau OMK OMK yang :
    “LEMAH” imannya yang gak tau dia tuh Kristen / Katolik / Kristiani / pengikut saksi Yhv…???
    “MISKIN” lingkungan rohani yang mendukung nya mengenal TUHAN nya. . . ???
    “TERSINGKIR” dari Universitas Katoliknya, dari Paroki tempat KOSTnya…???
    “DIFABEL” (…cacat…)….. AMIN

Tinggalkan Balasan ke fx.cahyadi suryaputra Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *