Sinode 2018 yang berakhir 28 Oktober kemarin membawa kebahagiaan bagi orang muda. Malam sebelum penutupan, orang muda mengucapkan terimakasih dengan mengadakan malam hiburan bagi Paus dan para uskup peserta sinode. Selain memberikan pertunjukan tari dan lagu, orang muda juga menyampaikan surat ucapan cinta dan terimakasih. Terimakasih karena mereka sudah menjadi bagian dari sejarah dan memberi kesempatan untuk mengungkapkan ide-ide baru dan memberi ruang untuk mengungkapkan yang dirasakan orang muda.
“Dunia saat ini, yang memberikan kepada kami, orang-orang muda, peluang-peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya tetapi juga banyak penderitaan, membutuhkan jawaban baru dan kekuatan cinta yang baru. Ada kebutuhan untuk menemukan kembali harapan dan untuk menjalani kebahagiaan yang dialami dalam memberi lebih dari sekedar menerima, seraya mengupayakan dunia yang lebih baik.”
Sinode sendiri menghasilkan dokumen akhir yang terdiri dari 3 bagian, 12 bab, 167 paragraf dan 60 halaman yang disetujui di ruang sinode. Dokumen ini juga diinspirasi dengan kisah murid Emaus. Yesus yang menemani perjalanan para murid, Dia berjalan bersama dengan mereka. Sejak awal persiapan sinode, Gereja memiliki komitment untuk berjalan bersama dengan orang muda. Keterbukaan untuk melihat realitas orang muda dengan segala tantangannya juga membawa keterbukaan Gereja dengan segala keterbatasannya. Paroki dan tempat-tempat pengembangan orang muda diharapkan menjadi tempat yang efektif untuk memperhatikan dan berjalan bersama dengan orang muda.
Dalam Misa, 28 Oktober 2018, Bapa-bapa Sinode menyapa orang muda sedunia dengan kata harapan dan kepercayaan serta hiburan. Selama sinode disadari menjadi kesempatan untuk mendengarkan suara Yesus yang senantiasa muda. Suara kegembiraan, tangisan, keheningan orang muda menjadi suara-suara yang ingin didengarkan. Orang muda diajak untuk untuk terus bertumbuh dan Bapa-bapa sinode ingin ikut dalam sukacita orang muda. Gereja adalah ibu yang akan selalu menemani. Gereja berjalan bersama dengan orang muda.