Temu Komisi Kepemudaan Regio Sumatera: Hadir dan Menjadi Sahabat bagi Semua

Tanggal 14-16 Mei 2022, Sabtu hingga Senin, para ketua Komisi Kepemudaan beserta para pendamping Orang Muda Katolik (OMK) se-Regio Sumatera berkumpul di Rumah Retret Giri Nugraha, Palembang. Kesempatan perjumpaan ini menjadi berharga setelah dua tahun lamanya hanya bisa berjumpa secara daring karena pandemi.

Pertemuan ini menjadi kesempatan yang baik pula untuk memperbarui dan menyegarkan kembali pola-pola pendampingan OMK di keuskupan-keuskupan yang ada di Regio Sumatera. Dalam homilinya di misa pembuka, Rm. Amo MSC, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Palembang, menyampaikan: “Kasih yang diterapkan oleh Yesus adalah kasih seorang sahabat. “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yoh. 15:14). Seorang sahabat sejati pertama-tama mengasihi Tuhan. Persahabatan sejati menempatkan Tuhan sebagai pusatnya; Dia adalah dasi yang mengikat. Sahabat sejati saling memandang melalui mata Tuhan.” Rm. Amo berharap para pendamping dapat menjadi sahabat yang baik bagi orang muda, berlandaskan kasih pada Tuhan dan sesama. 

Para pastor dan para pendamping yang hadir kemudian saling berkenalan dan berdinamika kelompok bersama di sesi kedua untuk mengakrabkan kembali satu dengan yang lain. Semua keuskupan di Regio Sumatera terwakili kehadirannya. Rm Alfons Laia dari Keuskupan Sibolga yang tak bisa hadir karena ada acara dengan Bapa Uskup diwakili oleh dua pengurusnya. Suasana kebersamaan dan kehangatan begitu tampak. 

Di hari yang kedua, pembicaraan tentang spiritualitas kasih seorang sahabat bagi semua semakin terlengkapi dengan materi tentang “Menjadi Inklusif”. Rm. Frans Kristi Adi dari Komisi Kepemudaan KWI menegaskan bahwa pola pendampingan orang muda sebagai sahabat harus terungkap dalam pendampingan yang merengkuh dan menumbuhkan. Tidak hanya dalam persahabatan ke dalam, tapi juga membangun persahabatan di luar dengan mereka yang berbeda iman. Desiana Samosir, pengurus Komkep KWI, juga menyampaikan dengan sangat baik materi ini. Desi, panggilan akrabnya, memantik diskusi tentang praktik-praktik ekslusivitas yang terjadi di masyarakat, lalu menegaskan tentang pentingnya menjadi inklusif. Tidak hanya dalam konteks luas, menerima dan menghormati perbedaan di tengah situasi bangsa, tapi juga menjadi pola hidup sehari-hari. 

Setelah berdiskusi panjang tentang menjadi inklusif, Komkep Keuskupan-Keuskupan kemudian berbagi praktik baik yang terjadi selama kurang lebih dua tahun terakhir dalam mendampingi orang-orang muda. Terlihat bahwa meski dalam situasi pandemi, Komkep Keuskupan-keuskupan di Sumatera tetap kreatif mendampingi orang mudanya. Beberapa pola pendampingan mulai terpetakan, misalnya pentingnya kaderisasi OMK, pendampingan bagi mahasiswa yang ternyata juga masuk dalam ranah Komisi Kepemudaan, pentingnya membangun keterlibatan dalam keberagaman. 

Rangkaian acara kemudian diakhiri dengan dinamika kebersamaan dengan berziarah ke Via Crucis, Sukomoro, Palembang, dan rekreasi bersama. Para ketua Komkep juga masih berdinamika sejenak dalam rapat khusus membicarakan Indonesian Youth Day Palembang 2023 dan rencana-rencana pertemuan regio, terkhusus belajar bersama di bulan Oktober 2022 bersama Rm Alfons Widhi SX, ketua komkep Padang. Pertemuan ini akan diselenggarakan di Keuskupan Tanjungkarang. 

Salam semangat orang muda, menjadi sahabat bagi sesama. 

Post Author: komkep kwi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *