OMK Ikut Turne ke Stasi: Menantang dan Menyenangkan

Paroki Belimbing di Keuskupan Sintang atau yang dikenal dengan nama Pelindung Paroki Santa Maria Tanpa Noda Belimbing memiliki 36 Stasi dan jarak tempuh setiap stasi juga lumayan jauh dari pusat Paroki. Akses jalan yang ditempuh cukup menantang bagi para Pastor. Orang Muda Katolik (OMK) pun biasa mengikut perjalanan turne Pastor Paroki. Rute itu melewati jalan perkebunan sawit dan jalan tanah kuning, dan tidak menutup kemungkinan jika cuaca hujan maka jarak tempuh menjadi lebih lama bahkan kadang bisa menginap dalam perjalanan. Bahkan jika menuju stasi paling ujung Paroki Belimbing yaitu Santo Yohanes Stasi Balai Agas, rutenya lebih menantang lagi. Jarak tempuh bila cuaca baik yang dilalui menggunakan sepeda motor sekitar kurang lebih 6 jam dari Pusat Paroki Belimbing atau Desa Pemuar. Jika cuaca hujan, bisa menginap di perjalanan dikarenakan kondisi jalan yang masih tanah kuning.

Kami sebagai OMK sangat kagum karena stasi yang hanya memiliki 13 KK umat Katolik ini mampu membangun sebuah Gereja Katolik yang besar dan indah. Meskipun jarak tempuh jauh,  jalan yang sangat menantang melewati beberapa sungai dan melintas bukit Dolek yang tak jarang motor harus didorong agar bisa menanjak bukit tersebut,  semua itu tidak menyurutkan semangat umat Katolik yang hanya 13 KK tersebut untuk membangun sebuah Gereja Katolik.

Selalu ada hal menarik yang membuat OMK ingin kembali mengunjungi Stasi penghujung ini. Selain mewartakan kabar suka cita serta melayani sesama umat Katolik di sana, banyak destinasi alam yang indah yang sayang untuk dilewatkan serta keramahan dan kehangatan warga Desa Balai Agas. Saat menjumpai ketua Stasi yaitu Pak Bernadus, beliau menyampaikan bahwa “toleransi atar umat beragama di Desa Balai agas masih terpelihara dengan baik karena setiap ada kegiatan keagamaan, umat yang beragama lain juga dengan semangat turut membantu dan berpartisipasi dalam menyukseskan acara.”

Banyak pengalaman dan banyak pelajaran yang OMK dapatkan dari setiap perjalanan turne bersama Pastor. Pembelajaran dan makna yang kami dapatkan adalah kami diajak  untuk memiliki semangat dalam membangun Gereja masa depan, menumbuhkan rasa solidaritas dan kebersamaan dengan umat-umat Katolik di pedalaman. Selain itu, yang paling utama adalah kami diajak untuk mencintai Tuhan secara nyata bukan hanya dengan datang Misa ke Gereja setiap hari Minggu tapi juga dengan mengasihi dan mencintai sesama lewat perbuatan. Tujuan utama ini diteguhkan dengan teks kitab suci ini:  “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh 13:34-35)

(Ririn, OMK Keuskupan Sintang)

Post Author: komkep kwi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *